Buntut Aturan Baru, Seorang Peserta Bangkit Dari Kubur Untuk Cairkan JHT

“Balikin duit aing, woy!”

Halamanbelakang.com Belakangan ini, Permenaker nomor 2 tahun 2022 menjadi perbincangan hangat. Hal ini tak lepas dari kontroversi yang ditimbulkan oleh perubahan aturan yang menyatakan bahwa jaminan hari tua (JHT) baru bisa dicairkan saat pekerja telah berusia 56 tahun.

Padahal, sebelumnya dalam Permenaker nomor 19 tahun 2015, JHT bisa dicairkan oleh pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), mengalami cacat, berhenti bekerja (baik karena mengundurkan diri maupun tidak lagi bekerja di Indonesia dan/atau perusahaan yang bersangkutan), pensiun, maupun meninggal dunia dan dapat dicairkan dalam jangka waktu sebulan setelah kondisi yang ada terpenuhi. Tak ayal, hal ini menimbulkan protes dari berbagai pihak.

Salah satunya Yoko, seorang pemuda desa Sukapongo yang bangkit dari kubur dan mendatangi kantor BPJS untuk meminta kejelasan mengenai pencairan JHT serta berhenti menjadi peserta BPJS. 

Pemuda tersebut diketahui meninggal sebulan yang lalu akibat kecelakaan kerja yang dialaminya. Sebelumnya, Yoko telah meninggalkan sejumlah uang klaim asuransi untuk keluarganya. Akan tetapi, aturan baru mengenai JHT membuat hal tersebut tidak dapat direalisasikan. Hal itu membuatnya memiliki inisiatif untuk bangkit dari kubur dan meminta kejelasan.

Saat diwawancarai, Yoko, yang tengah mencari bola matanya yang jatuh, tidak bicara banyak dan terus bersikeras meminta pertanggungjawaban pihak BPJS mengenai pencairan JHT dan klaim asuransinya. Ia menyayangkan perubahan aturan mengenai JHT serta meminta pengembalian uang yang telah ia setorkan ke BPJS untuk diberikan kepada keluarganya secara penuh. Ia juga menyatakan akan berhenti menjadi peserta BPJS serta merekomendasikan BPJS pada orang-orang yang senantiasa mengurus rumah keduanya di TPU Sukapongo.

See also  Demo Ricuh, Polisi : Ulah Anarko

You May Also Like