Aku, Kamu, dan Fafifu

ilustrasi twitter

Bahasa ndakik-ndakik dan akademisi seperti bahasa inggris dan orang Jakarta Selatan, keduanya sulit untuk dipisahkan. Tidak ada yang salah dalam menggunakan kedua bahasa tersebut digunakan untuk berkomunikasi terlebih dalam media sosial, tempat semua orang dapat bebas berekspresi sesuka hati.   

Teori, pendapat, opini dan segala tulisan yang terlontar dari seorang akademisi seringkali gagal dalam menyampaikan pesannya kepada publik karena satu hal yakni bahasa yang mereka pakai terlalu ndakik-ndakik.

Ndakik-ndakik identik dengan akademisi karena ia merupakan bagian dari lingkaran setan yang disebut juga curse of knowledge. Kutukan dimiliki oleh banyak akademisi baik dari tingkatan terendah sampai tertinggi.

Lihat saja bagaiamana para akademisi di media sosial Twitter menerangkan sesuatu kepada seseorang namun dirinya tidak sadar bahwa lawan bicaranya tidak mengerti akan apa yang diterangkannya. Mirip seperti bagaimana orang Jakarta Selatan berbicara dengan bahasa inggris aksen daerah tersebut dengan orang luar Jakarta.

Kasus ini merupakan contoh kasus sederhana yang terjadi di masyarakat.Indonesia. Para akademisi cenderung menggunakan bahasa yang sering mereka jumpai dalam kehidupan berakademisi mereka seperti halnya masyarakat umum menggunakan bahasa daerah atau bahasa lainnya.

Lingkaran Ndakik-ndakik, Masyarakat vs Akademisi

Beragam persepsi negatif muncul di masyarakat akan penggunaan bahasa ndakik-ndakik oleh para akademisi. Mulai dari smart shaming, labelling sampai elitisme yang baik dikalangan akademisi maupun masyarakat awam.  

Maraknya penggunaan bahasa ndakik-ndakik oleh para akademisi menyebabkan mereka mengalami smart shaming karena masyarakat melihat mereka sebagai golongan yang sok cerdas. Penggunaan bahasa yang tidak membumi atau sukar dipahami oleh seorang akademisi menciptakan persepsi dalam masyarakat bahwa akademisi tersebut hanyala tong kosong yang nyaring bunyinya karena tidak dapat menyampaikan pesan apapun kepada lawan bicaranya.

Sebaliknya para akademisi terkadang lupa bahwa mereka bukan lagi berada pada area akademik atau kampus tempat mereka biasa ndakik-ndakik. Mereka lupa bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan pendidikan yang berbeda satu sama lain.

Pemahaman masyarakat bahkan sering bertolak belakang dengan akademisi. Tidak perlu jauh membahas bagaimana persepsi sejarah G30S PKI, membahas penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar keduanya memiliki pemahaman yang berbeda. Para akademisi tentu tidak asing dengan kata cuitan, luring, daring dan unduh yang merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan masyarakat umum saat mendapati empat kata tersebut muncul, kemungkinan besar mereka akan menyernyitkan dahi sebelum mencari tahu arti bahasa tersebut dan menemukan kata tersebut merupakan bahasa Indonesia dari tweet, offline, online dan download.

Hal tersebut terjadi karena masyarakat umum lebih sering menjumpai istilah tersebut dalam kehidupannya ketimbang bahasa baku Indonesianya. Perbedaan ini merupakan hal yang paling mencolok namun paling sering dilupakan. 

See also  Cinta tak mengenal batas, Wanita ini menikahi helikopter tempur

Bahasa ndakik-ndakik juga bisa menjadi awal labelling dan bahkan elitisme dalam kedua belah pihak. Bagi para akademisi yang sering ndakik-ndakik ditengah masyarakat terutama dalam bermedia sosial, siap-siap saja dapat label open minded. Kata yang sebenarnya berkonotasi positif tersebut berubah menjadi negatif tak kala seorang akademisi gagal dalam menyampaikan pesannya. Alih-alih menyampaikan perubahan, akademisi tersebut akan dicap sok pintar. Bahkan hal ini dapat berlanjut sampai dengan tahap munculnya persepsi akan strata baru yakni strata masyarakat yang berlandaskan pengalaman empiris serta strata akademisi yang berlandaskan teori.Masyarakat yang memiliki landasan pengalaman empiris menganggap golongan akademisi tidak tahu bagaimana kehidupan bermasyarakat sesungguhnya karena mereka berlandaskan teori.

Sebaliknya masyarakat akan dicap sebagai seorang yang terbelakang atau jauh dari peradaban tak kala ia tidak bisa menerima pesan yang disampaikan oleh akademisi tersebut. Golongan akademisi akan melihat masyarakat tersebut sebagai orang yang berada dibawah mereka dan perlu untuk diarahkan seperti hewan ternak.

Perselisihan-perselisihan inilah yang menjadikan ndakik-ndakik menjadi buruk. Komunikasi yang tidak berjalan dua arah ini menyebabkan inti dari pesan yang sedang disampaikan tidak dapat dipahami oleh target.  

 Kompromi, Damai antara Masyarakat dan Akademisi

 Walaupun dalam beberapa kasus bahasa ndakik-ndakik diperlukan untuk menjelaskan suatu hal seperti dalam menjelaskan hal khusus atau kalimat atau kata yang sulit diterjemahkan, tidak ada salahnya untuk menggunakan istilah yang lebih awam atau penjelasan lebih lanjut.

Membuat pesan menjadi lebih mudah dipahami bukan berarti mendangkalkan pesan yang akan disampaikan. Menggunakan istilah yang lebih awam dan penjelasan yang lebih rinci tidak akan mengubah inti pesan walau penyampaiannya butuh waktu yang lebih lama. Sama seperti bagaimana seseorang menaiki tangga, ia akan melangkah menyusuri anak tangga tersebut satu per satu. Semakin lama melangkah semakin tinggi, pelan tapi pasti.

 By: Yanto

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *